Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok

Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok - Hallo sahabat Cozy Corner Health, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Keluarga, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok
link : Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok

Baca juga


Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) ialah istilah medis untuk bronkitis kronis dan emfisema yang menyulitkan pernafasan. Bronkitis kronis ialah peradangan kanal udara paru (bronkus) yang ditandai oleh batuk berdahak selama minimal tiga bulan dalam setahun pada dua tahun berturut-turut. Emfisema adalah kondisi di mana kantung udara (alveolus) paru-paru kehilangan kemampuannya untuk mengembang dan mengempis. Keduanya ialah kerusakan menahun paru-paru yang biasanya disebabkan oleh merokok. PPOK ialah duduk kasus kesehatan utama yang menjadi penyebab kematian no. 4 di Indonesia pada tahun 2010 berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Gejala

Bagaimana PPOK terjadi?
Paru-paru ialah sepasang kantung udara yang berada di kedua sisi dada. Ketika Anda bernafas, udara tersedot melalui hidung dan mulut dan menuruni trakea (batang tenggorokan). Trakea terbagi menjadi dua pipa kanal udara, satu pada setiap sisi paru, yang kemudian bercabang di lobus paru-paru (dua cabang di sebelah kiri, tiga di sebelah kanan). Pipa-pipa cabang yang disebut bronkus ini kemudian terbagi ke pipa-pipa kecil yang disebut bronkiolus, yang berujung di kantung-kantung udara kecil yang disebut alveolus (jamak: alveoli). Alveolus dilingkupi oleh jaringan pembuluh darah kecil (kapiler). Di dalam alveolus ini pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi. Oksigen berjalan dari udara dalam alveolus ke kapiler, dan karbon dioksida berjalan ke arah sebaliknya. Setelah masuk ke dalam darah, oksigen dipompa dari paru-paru ke jantung dan kemudian ke seluruh tubuh. Karbon dioksida di dalam alveolus dikeluarkan ke udara luar.Itulah cara kerja paru-paru yang sehat.Pada penderita PPOK, prosesnya menjadi kacau dan kurang efisien. Pada bronkitis kronis, bronki dan bronkiolus menjadi rusak dan meradang. Pada emfisema, alveolus menjadi hancur. Sebagian besar kasus PPOK melibatkan kombinasi antara emfisema dan bronkitis kronis. Pada PPOK yang parah, transfer oksigen dan karbon dioksida sangat jelek sehingga penderita mati lemas.
Penderita PPOK biasanya ialah perokok atau mempunyai riwayat perokok berat (satu pak atau lebih sehari) selama 20 tahun atau lebih. Selain riwayat merokok, kondisi berikut sanggup mengindikasikan PPOK:
  • Sesak nafas (dispnea). Pada awalnya sesak nafas hanya dialami sehabis beraktivitas fisik. Namun, ketika paru-paru semakin rusak, sesak nafas terjadi ketika melaksanakan pekerjaan harian rutin menyerupai berjalan dan menyiram tanaman atau bahkan ketika beristirahat.
  • Mengi dan batuk kronis, seringkali disertai dahak, yang berlangsung usang (berbulan-bulan).
  • Sering mendapat infeksi paru. Jaringan paru-paru yang rusak lebih gampang terinfeksi, sehingga mengakibatkan bronkitis akut dan pneumonia, terutama di isu terkini hujan ketika influenza merebak. Saluran udara mempunyai prosedur untuk mengusir basil dengan mengeluarkan dahak melalui batuk. Paru-paru yang rusak tidak bisa melakukannya sehingga basil cenderung berkumpul di dalam alveoli dan saluran udara dan menyebar di seluruh lobus paru-paru. Penderita PPOK membutuhkan waktu usang untuk pulih dari infeksi paru, yang sanggup berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
  • Gagal jantung. Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke paru-paru lantaran begitu banyak jaringan paru-paru yang rusak. Beban ekstra ini menciptakan jantung melemah dan membesar.
  • Hipoksia (kekurangan oksigen dalam darah). Organ tidak mendapat oksigen yang cukup dan menjadi rusak. Kurangnya fatwa darah ke otak, misalnya, sanggup mengakibatkan kebingungan, pelupa dan depresi. Pada kulit, kekurangan oksigen ini ditandai oleh semburat biru lebam (sianosis).
  • Pneumotoraks (pengempisan paru-paru). Terdapat pengumpulan udara di sekitar paru-paru yang bocor dari jaringan paru yang rusak. Penumpukan udara ini menekan paru-paru, sehingga tidak sanggup mengembang sebesar biasanya ketika mengambil nafas.
 yang ditandai oleh batuk berdahak selama  minimal tiga bulan dalam setahun pada dua tahun PPOK: Penyakit Mematikan Akibat Rokokphoto © 2010 Yale Rosen | more gosip (via: Wylio)

Penyebab

Sebagian besar kasus PPOK disebabkan oleh merokok. Paparan polutan menyerupai asap debu dan bahan kimia sanggup memperparah gejalanya. Pada tipe emfisema yang langka, penyebabnya ialah kondisi genetik di mana terdapat kekurangan antitripsin alfa-1. Protein ini biasanya membantu melindungi paru-paru dari enzim berbahaya lain yang sanggup menghancurkan jaringan paru-paru. Pada orang dengan defisiensi antitripsin alfa-1, merokok sangat berbahaya lantaran mempercepat perkembangan emfisema.

Diagnosis

Diagnosis awal dilakukan dokter dengan mempelajari riwayat pasien dan gejala-gejala yang dikeluhkan. Dokter akan melaksanakan investigasi fisik, mendengarkan melalui stetoskop untuk mendeteksi bunyi berderak di paru-paru yang disebabkan oleh alveoli yang rusak. Diagnosis terbaik PPOK dilakukan dengan tes spirometri, memakai perangkat spirometer untuk mengukur seberapa dalam pernafasan seseorang dan seberapa cepat udara sanggup bergerak masuk dan keluar dari paru-parunya. Penderita PPOK tidak bisa membuang nafas sebanyak dan secepat orang dengan paru-paru normal. Setelah melaksanakan pengujian, pasien diberi obat bronkodilator hirup. Spirometri diulangi, dan jika ada peningkatan besar dalam hasilnya, hal ini memperlihatkan bahwa kondisinya bukan PPOK tetapi asma.
Karena beberapa penyakit paru lain dan penyakit jantung mempunyai tanda-tanda yang menyerupai dengan PPOK, investigasi rontgen, EKG, dan sampel darah mungkin juga diharapkan untuk menegakkan diagnosis dan menilai keparahan kondisi.  Foto rontgen paru sanggup memperlihatkan kelainan-kelainan pada paru-paru. Tes darah sanggup memperlihatkan tingkat oksigen yang rendah.

Pengobatan

Kerusakan paru-paru dan saluran udara pada PPOK bersifat ireversibel (tidak sanggup diperbaiki). Namun, perawatan tertentu dapat membantu pasien bernafas lebih baik, hidup lebih aktif dan lebih lama. Oleh lantaran itu, penting sekali untuk mengidentifikasi PPOK sedini mungkin biar perawatan sanggup dimulai semenjak awal. Bila Anda perokok, jangan abaikan keluhan menyerupai sering batuk dan sesak nafas. Segeralah memeriksakan diri ke dokter. Pengobatan dan perawatan PPOK meliputi:
  • Berhenti merokok. Berhenti merokok ialah keharusan bagi penderita PPOK.
  • Bronkodilator, yaitu obat-obatan inhalasi atau semprot yang membantu membuka kanal udara. Meskipun tidak seefektif pada penderita asma, obat-obatan itu sanggup mengurangi gejala dan membuat nafas lebih mudah.
  • Kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi dan pembengkakan jaringan paru-paru yang diberikan melalui inhalasi atau tablet untuk jangka pendek.
  • Pengobatan untuk infeksi. Antibiotik mungkin diresepkan untuk mengobati infeksi menyerupai pneumonia, dan vaksinasi mungkin diberikan untuk mencegah flu.
  • Terapi oksigen. Dalam kasus parah ketika paru-paru tidak sanggup menghirup oksigen yang cukup, pasien perlu mendapat pasokan oksigen melalui masker atau selang bercabang dua yang dimasukkan ke lubang hidung
  • Operasi. Pada penderita PPOK, kista besar yang dikenal sebagai bullae sanggup berkembang di paru-paru dan menghambat fungsi paru-paru. Dalam keadaan ini, pembedahan mungkin dilakukan untuk mengangkatnya biar sisa jaringan paru-paru sanggup berfungsi.
  • Rehabilitasi paru, dilakukan untuk membantu memperbaiki kualitas hidup selepas dari rumah sakit. Program rehabilitasi ditujukan biar pasien PPOK sanggup memanfaatkan fungsi paru-paru mereka yang masih tersisa. Pendidikan dan dukungan psikososial juga membantu untuk mengurangi kecemasan dan depresi yang sering menyertai PPOK.
Penderita PPOK berat rentan terhadap apa yang disebut “eksaserbasi akut” yaitu, episode di mana kondisi mereka tiba-tiba memburuk (terengah-engah) sehingga membutuhkan oksigen, bronkodilator dan pengobatan kortikosteroid di rumah sakit. Eksaserbasi ini umumnya diakibatkan oleh infeksi pernafasan sehingga biasanya juga membutuhkan pemberian antibiotik.

Beda PPOK dengan asma

PPOK dan asma sanggup saling berdampingan dan sering dirancukan satu sama lain. Asma sanggup memperlihatkan gangguan pernapasan yang mirip dengan PPOK, sehingga menciptakan diagnosis PPOK sedikit sulit. Namun, karakteristik PPOK dan asma sebetulnya sangat berbeda:
  • Asma dimulai semenjak usia muda, sedangkan PPOK sebagian besar dimulai pada usia di atas 40 tahun.
  • Merokok ialah faktor penyebab PPOK, sedangkan asma tidak.
  • Asma tidak mempunyai tanda-tanda produksi dahak (lendir) yang meningkat menyerupai pada PPOK.
  • Asma sebagian besar tetap stabil sepanjang hidup, dengan tanda-tanda bervariasi. PPOK cenderung memburuk dengan gejala persisten.

Sumber ...... 


Demikianlah Artikel Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok

Sekianlah artikel Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok dengan alamat link https://cozycornerhealth.blogspot.com/2018/08/ppok-penyakit-mematikan-akhir-rokok.html
Cozy Corner

Cozy Corner is a collection of several blogs including Cozy Corner Health, Cozy Corner Tech, Cozy Corner Song, Cozy Corner Lyric, etc.

0 Response to "Ppok: Penyakit Mematikan Akhir Rokok"

Post a Comment